Kamis, 16 Januari 2014

Islam di Korea



Muslim menjadi sebuah kaum minoritas di negara-negara Asia Timur, salah satunya di Korea Selatan. Di era modern Korea Selatan, perkembangan Islam baru dikenal setelah kedatangan tentara penjaga perdamaian asal Turki dalam Perang Korea, yang memperkenalkan Islam kepada para penduduk lokal. Selama menjalankan tugas di Korea inilah, mereka membangun perkemahan yang digunakan sebagai masjid, yang digunakan juga sebagai wadah untuk mulai memperkenalkan Islam. Pendirian masjid raya terwujud pada 1976 yang berdiri di atas sebidang tanah seluas 1.500 m2 yang disumbangkan oleh President Park Jung Hee, penguasa Korea Selatan saat itu.

Sebagaian besar masyarakat di Korea tidak beragama (atheis), yang jumlahnya mencapai sekitar 45%. Kemudian, diikuti dengan pemeluk agama Budha (23%), Kristen (18%) dan Katolik (10%) secara berturut-turut. Jumlah penduduk asli Korea yang beragama Islam sampai saat ini tidak lebih 0,1% dari sekitar 50 juta jiwa total populasi penduduk. Di samping jumlah tersebut, terdapat sekitar 200.000 muslim pendatang dari berbagai negara di dunia, baik untuk bekerja, belajar, ataupun menetap di Korea. Namun, jumlah muslim di Korea semakin bertambah seiring dengan terjadinya interaksi yang secara tidak langsung mampu membantu menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat asli Korsel.


Masjid pertama yang dibangun di Korea Selatan adalah Seoul Central Mosque and Islamic Center yang berada di kota Itaewon. Masjid ini selesai dibangun dan dibuka untuk publik pada tahun 1974. Tidak hanya sebagai tempat sholat, di kompleks masjid ini juga dilengkapi dengan kantor, ruang kelas, sekolah, dan aula untuk konferensi. Hal ini dimaksudkan agar masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat sholat, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pendidikan. Segala kegiatan ibadah dan aktivitas dakwah dikoordinasi oleh Korean Muslim Federation (KMF). Mengingat sebagian besar jumlah kaum muslimin yang di Korea adalah pendatang, maka seluruh aktivitas ibadah di masjid meliputi sholat jumat, sholat idul fitri dan yang lainnya, yang disampaikan dalam 3 bahasa, yaitu arab, inggris dan korea.

Sampai sekarang, tercatat bahwa ada sekitar 21 masjid dan Islamic Center yang tersebar di beberapa pusat kota di Korea, yang seluruhnya berada di bawah koordinasi KMF. Selain masjid dan Islamic Center, beberapa universitas dan perusahaan menyediakan ruangan yang diperuntukkan sebagai tempat sholat bagi mahasiswa maupun karyawannya yang beragama Islam. Namun, pada sebagian besar tempat, tidak pernah dijumpai tempat sholat khusus, sehingga kebanyakan kaum muslim di sana menjalankan sholat saat datang waktunya di mana saja, asalkan suci.

Yang paling banyak dikeluhkan oleh kaum muslim yang tinggal di Korea adalah sulitnya mendapatkan makanan halal. Memang ada toko muslim khusus yang menyediakan berbagai macam makanan halal dari berbagai negara, namun toko tersebut hanya mampu ditemukan di kompleks masjid. Di samping itu, hanya terdapat beberapa toko khusus yang menjual daging halal yang disembelih secara islami. Terkait makanan kemasan produksi Korea, perlu kehati-hatian dalam memilih karena sebagian besar makanan kemasan mengandung babi atau turunannya. KMF telah mengeluarkan daftar makanan-makanan kemasan yang sudah dicek kehalalannya. Adapun yang berada di luar daftar tersebut, pembeli harus mengecek sendiri kandungan penyusun makanan tersebut. Masyarakat Korea sangat gemar untuk makan daging sehingga sebagian besar restoran memiliki menu utama daging, baik daging babi, sapi, maupun ayam. Mengingat penyembelihan sapi dan ayam di sana tidak mengikuti syariat Islam, kaum muslim cenderung memilih menu sayuran dan ikan ketika harus mengikuti jamuan makan bersama di restoran Korea.

Saat muncul berita tentang pengeboman yang mengatasnamakan Islam dan jihad, sebagai contoh, yaitu serangan 11 September di Amerika, masyarakat awam berfikir bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan pengeboman untuk jihad. Banyak masyarakat awam Korea yang tidak mengerti sehingga menjadi takut dan cenderung menjauhi Islam dan pemeluknya karena hal ini. Oleh karena itu, penduduk asli Korea yang beragama Islam berusaha keras menjelaskan kepada masyarakat awam bahwa Islam sangat melarang kekerasan, pengeboman dan hal semacamnya. Lee Ju-hwa, Ketua Dakwah dan Pendidikan KMF, menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat Korea sekarang mulai bisa memahami. Meskipun hidup sebagai seorang muslim bagi warga asli Korea terlihat berat, namun pemeluk Islam di Korea sangat bangga menjadi seorang muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar